Aqiva Nur Azizah X-TBG1 (8)

                                    "Magic Shop"

Tempat yang di percaya sebagian remaja untuk menyembuhkan luka-luka yang ada di hati mereka. Insecure, sakit hati karena perkataan orang lain, hari-hari melelahkan, semuanya bisa terobati di "Magic Shop" ini. Tapi sayangnya, tempat itu hanyalah fiksi belaka. Ya, tempat itu tidak ada di dunia nyata. Tapi percayalah, tempat itu nyata di hati kalian.

                                            ***

Melelahkan, hari ini benar-benar melelahkan. 
Entahlah, aku tidak merasa kalau aku membuat kesalahan. Tapi kenapa, kenapa orang-orang berkata bahwa seolah-olah semua yang terjadi adalah salahku? Dan melontarkan kata-kata yang benar-benar menyakitkan? Mereka berkata seolah aku tidak pernah berusaha...

Ingin rasanya aku melawan perkataan mereka, tapi apalah daya, aku hanyalah seorang gadis berumur 15 tahun yang tidak bisa melawan perkataan orang tua.

Aku membuka pintu kamarku, menatap ruangan gelap itu, dan tersenyum tipis. 

"Ah bukankah kamar itu benar-benar tempat yang paling nyaman? Tidak ada yang bisa melarangku di sini. Aku bebas melakukan apapun sesuka ku" gumamku.

Ku nyalakan lampunya, dan segera aku menutup pintunya kembali. Berjalan cepat ke arah kasur, dan membanting tubuh ku di kasur nyaman milikku sendiri.

Aku melirik jam yang tertempel di dinding, hampir  jam 12 malam. Aku menutup mataku, membayangkan apa apa saja yang telah terjadi hari ini. Lalu bertanya dalam hati, "apakah semua ini salahku? apa akan ada yang berubah besok? ah itu tidak mungkin" dan senyum pahit muncul di bibirku.

"Aku lelah, aku ingin menyerah, dan aku hanya ingin..


Tertidur untuk selamanya."

                                             ***


Aku membuka mataku lalu mengerjap, membiasakan cahaya yang masuk kedalam mataku. Menatap sebuah toko yang ada persis di depan ku. Dan mencoba mengingat sesuatu.

"Apa ini? Aku dimana? Bukankah terakhir kali aku berada di kamar dan terbaring nyaman di atas kasur lalu menutup mata sebentar? oh apa ini mimpi? Ya aku pasti ketiduran dan bermimpi"

Seorang pemuda membuka pintu toko itu, melihat ke arahku, menatap ku dengan lekat. Lalu dia tersenyum, Senyuman tulus dan hangat.

"Masuklah" 

Ucap pemuda itu entah kepada siapa. Suaranya benar benar merdu dan menenangkan. Aku celingak celinguk, mengedarkan pandanganku ke sekitarku. 

"Tidak ada siapa siapa di sini" ucapku lirih.

Aku menunjuk diriku sendiri lalu bertanya ke pemuda itu "kau berbicara denganku?" 

Pemuda tersebut mengangguk dan berkata lagi, "bukankah di luar dingin? Masuklah, atau kau akan masuk angin nanti" dan dia tersenyum lebih lebar lagi. Senyum manis yang memperlihatkan lesung pipi nya itu.

Aku mendongakkan kepalaku, melihat tulisan yang  tertempel di atas bangunan toko itu

"Magic Shop...

Benar benar nama toko yang aneh" pikirku.


Tanpa memikirkan apapun lagi, aku mengangguk dan masuk ke dalam toko tersebut.

Toko yang di selimuti warna ungu dengan lampu yang tidak terlalu terang tapi juga tidak terlalu gelap, hangat dan nyaman. Bahkan mungkin lebih nyaman dari kamarku sendiri.

Pemuda tadi mempersilahkan aku untuk duduk, aku menurutinya dengan duduk di salah satu bangku yang sudah tersedia. Mengedarkan pandangan ke seluruh toko, dan tatapan ku terpaku ke pemuda tadi yang sedang menyiapkan sesuatu sambil mengobrol dengan pemuda lainnya.

"Siapa pemuda yang satunya itu? Apakah itu teman pemuda yang menawari ku masuk tadi?"

Pertanyaan itu tentu tidak aku tanyakan langsung ke pemuda tadi, hanya aku simpan di dalam hatiku sendiri.

Lonceng yang ada di pintu berbunyi, menandakan seseorang masuk ke toko ini. Aku melihat ke arah pintu, di sana berdiri seorang laki-laki dengan rambut hitam legamnya dan kulit seputih susu. 

Laki-laki itu melihat ke arahku dengan wajah datarnya, berjalan mendekat ke arahku dan tanpa permisi, ia duduk di sampingku.

Tentu aku tidak protes atau melarangnya duduk di situ, toh dia juga pelanggan bukan?

Suasana nya sangat hening atau bisa terbilang canggung?, aku melihat ke arah pemuda yang menyambut ku dan menyuruhku masuk tadi. Apa yang di buatnya? Kenapa ia lama sekali? Aku benar benar merasa tidak nyaman dengan suasana canggung ini.

"Hey kau tau,"

Laki-laki yang duduk di samping ku tiba tiba berbicara, dengan refleks aku menoleh ke arahnya.

"Dulu aku berpikir aku harus berlari lebih cepat dari awan supaya hujan tidak turun terlebih dahulu saat aku di jalan."

Dia terdiam sejenak, dan menghela nafas pelan lalu melanjutkan kata-katanya

"Tapi aku terlambat. Entah memang aku yang lambat, atau awan yang mengejarku dengan cepat."

Aku sedikit bingung dan tidak mengerti akan perkataanya

"Aku di basahi hujan, namun rasanya malah baik-baik saja. Sepertinya dari sana aku mulai jatuh cinta pada hujan dan merubah perspektif ku yang ada."

Ah, aku mulai sedikit mengerti maksud perkataannya

"Di sana, di temani gemuruh dan gemercik air, aku bahagia karena aku tidak sendiri lagi"

Pandanganku terpaku dengan wajahnya yang terlihat mendung tapi tetap manis itu, aku tetap diam dan mendengarkan perkataan demi perkataan yang laki laki itu lontarkan

"Aku jadi berpikir, mengapa harus lari? Jika hujan dapat temaniku dalam sepi?" Ia menoleh dan menatap ke arahku, lalu tersenyum.

Ya, laki laki itu tersenyum. Senyuman gusi yang lebar dan sangat manis. Awan mendung yang tadi singgah di wajahnya seakan hilang tergantikan oleh matahari yang hangat. Membuatku terdiam untuk beberapa saat.

Setelah ia menyelesaikan perkataannya tadi, laki-laki itu berdiri dan beranjak pergi dari tempat duduknya. 

Aku melihatnya jalan ke arah pintu, dan akhirnya memutuskan untuk bertanya ke laki-laki itu 

"Kau itu siapa?" Ucapku sedikit berteriak.

Ia menghentikan langkahnya, menengok kebelakang dan melihat lagi ke arahku. 

"Bukan siapa siapa" jawabnya dengan senyuman yang tipis.

Dia melanjutkan langkahnya, sampai sosoknya tidak bisa terlihat lagi oleh kedua mataku.

Pemuda yang menyuruhku masuk tadi kembali, membawakan dua gelas teh hangat, lalu berjalan ke arah tempat aku duduk. Menaruh gelas teh tersebut di meja, lalu duduk di hadapanku. Menopang dagunya dengan tangannya, dia menatapku masih dengan senyuman hangat tadi dan aku balas menatapnya.

"Tempat apa ini? Dan siapa orang yang tadi?" Tanya ku langsung 

Pemuda itu menegakkan badannya, lalu menjawab

"Laki laki yang tadi itu temanku, dan tempat ini adalah..

Tempat yang hanya ada di hatimu" 

Ah jadi orang tadi itu temannya pemuda ini. Yah setidaknya rasa penasaran ku padanya sedikit berkurang.

Tapi aku dibuat melongo mendengar jawabannya tentang tempat ini, dan menahan tawa.

Pemuda ini pasti bercanda, harusnya dia bilang tempat yang hanya ada di mimpiku bukan di hatiku.

Pikirku sambil berusaha menahan tawaku.

"Ada apa?" Tanya pemuda itu dengan bingung

"Tidak, aku hanya merasa konyol saja dengan jawabanmu tentang tempat ini " aku tersenyum.

Pemuda itu menatap lekat mataku, dan berkata 

"Hey, kenapa kau ada di sini? Apakah masalah mu itu terlalu berat untuk kau lalui sampai sampai kau ingin menyerah? Dan lagi, senyuman mu itu sungguh manis, kenapa kau tidak menunjukkan senyum itu di hari hari mu?" 

Apa apaan dengan pertanyaan pemuda ini, dan lagi dari mana dia tau bahwa aku ingin menyerah? 

"Apa maksudmu?" Tanyaku dengan menutup mata, dan mencoba untuk tetap tenang, sembari meminum teh yang ia bawa tadi.

"Kau tau, orang-orang yang ada di sini adalah para remaja yang sedang mengalami kesulitan di kehidupannya.  Dan berpikir, apakah sebaiknya mereka menyerah dan mengakhiri ini semua. Dan tugasku di toko ini adalah, memberi semangat dan menghibur kalian agar kalian tidak menyerah dan kembali bersemangat" pemuda itu berkata tanpa menghilangkan senyum nya barang sedikitpun.

Aku tertegun, antara percaya dan tidak dengan ucapannya. 

Aku menghela nafas, membuka lagi kedua mataku, dan menatap lekat mata pemuda itu

"Memang apa yang kau tau tentangku? Lagipula aku tidak berniat untuk menyerah" ucapku tegas

Dan tentu saja, terselip kebohongan dari kata kataku barusan.

Senyuman di wajah pemuda itu agak memudar, dan tatapannya agak dingin. Berbeda dari yang tadi.

"Mulut memang bisa berkata bohong, tapi perasaan yang ada di hatimu itu tidak bisa berbohong" 

Pemuda itu menghela nafas berat, lalu menatapku dengan sendu.

Dia bangkit dari duduknya, dan memegang pundak ku,

"Bangkitlah. Aku tau kau lelah, tapi apakah kau tidak pernah berpikir bahwa masa depan yang cerah sedang menunggumu? Jangan cepat menyerah seperti itu. Temui jati dirimu yang sesungguhnya, dan coba cintai sosok dirimu yang hanya ada satu di dunia ini. Hiraukan saja perkataan-perkataan orang lain yang membuat hatimu sakit. Aku percaya padamu, dan kau harus percaya pada dirimu sendiri, oke?" 

Dia menatapku, tersenyum percaya diri dan menepuk pelan pundak ku.

Tanpa sadar, air mataku jatuh saat mendengar ucapannya. 

Saat aku ingin berbicara, sebuah cahaya datang dari belakang pemuda itu. Cahaya terang dan hangat, dan perlahan sosok pemuda tadi lenyap tertelan cahaya itu, bersamaan dengan hilangnya toko bernama magic shop itu.

                                   ***


Aku terbangun dengan air mata yang sudah jatuh dari pelupuk mataku. Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 6 pagi dan bangun dari posisi tidurku, lalu terduduk di atas kasur.

"Ternyata benar hanya mimpi ya? Tapi, itu terasa sangat nyata. Dan juga.."

Aku mengecap mulutku, menemukan rasa manisnya teh di lidahku.

"Persis seperti rasa teh yang aku minum di toko itu" gumamku

Teringat tentang ucapaan yang 'pemuda mimpi' dan 'laki laki mimpi' itu ucapkan kepadaku, dan kata "terima kasih" pun lolos dari bibirku dengan lengkungan tulus yang jarang aku tunjukkan ke orang orang.

Aku bangkit dari dudukku, bersiap untuk melakukan aktivitas yang biasa aku lakukan dengan semangat yang jarang aku temukan ini.

Aku sudah bertekad, bahwa aku tidak akan menyerah dan menggapai mimpi yang sudah lama aku kubur dalam dalam. 

                                            ***

Aku berjalan ke arah sekolah ku, dan berhenti tepat di depan toko peralatan elektronik. Melihat ke arah TV yang menyala, dan aku benar benar terkejut tentang apa yang aku liat di tv itu. Di situ, terdapat 7 orang laki-laki dari boygrup yang sudah sukses dan sedang mendunia.

Ah, bagaimana aku bisa lupa dengan dua sosok itu. Sosok leader dan sosok rapper dengan senyum gusi yang manis dari boygrup tersebut, dan dua sosok yang sama dengan yang muncul di mimpiku. 

Tanpa sadar, air mataku menetes lagi. Teringat salah satu judul lagu yang di ciptakan oleh boygrup tersebut, dan judul lagu itu adalah..

"Magic shop" gumamku lirih sambil tersenyum, menatap langit biru yang cerah.

"Jadi begitu ya..."

Tatapan ku kembali ke tv tadi, menghapus air mata yang ada di pipiku

"Aku benar-benar berterima kasih" senyuman tulus muncul di bibirku.

Dan aku kembali berjalan menuju sekolahku dengan senyuman yang terus tertera di bibirku.
  

                                          ***

"Ketika kau membenci dirimu sendiri, ketika kau ingin menghilang, ciptakanlah sebuah pintu didalam hatimu. Jika kau buka pintu itu lalu masuk ke dalamnya, sebuah tempat akan menunggumu. Tak apa percaya saja, Magic Shop akan menghiburmu."

-magic shop lyrics


                                          ***

Cerita ini terinspirasi dari lagu² Bangtan Sonyeondan yaitu magic shop, love myself, dan zero o'clock.

                      (Stories written by myself)



Komentar